Detik-Detik Rasulullah SAW Wafat Dibawah Langit Madinah yang Berduka
Dibawah Langit Madinah yang Berduka
Langit Madinah di pagi pagi waktu dhuha itu terasa redup, seolah merasakan bahwa dunia akan kehilangan cahayanya. Angin bertiup pelan, membawa kesedihan yang merayap di setiap sudut rumah sederhana di mana Rasulullah ﷺ terbaring. Para sahabat sudah berkumpul di luar, namun tidak ada suara. Hening. Seperti bumi menahan napas, menanti sebuah kepastian yang terasa begitu dekat, namun diingkari oleh hati yang tak rela.
Di dalam rumah itu, Aisyah radhiallahu 'anha menahan tangis dengan mata berkaca-kaca, duduk di sisi Rasulullah ﷺ. Tangan lembutnya menggenggam erat tangan suci sang Nabi yang kini terasa lemah. Wajah Rasulullah ﷺ, yang selama ini memancarkan cahaya kehidupan dan kekuatan, kini nampak pucat. Namun, di balik kelemahan itu, masih tersimpan ketenangan yang mendalam. Seakan-akan, beliau sudah siap menghadap Sang Kekasih yang selama ini dirindukan .
Fatimah radhiallahu 'anha, putri tercinta, masuk dengan langkah berat. Dadanya sesak menahan air mata yang sejak lama ia coba bendung. Rasulullah ﷺ, dengan suara serak namun lembut, memanggil putrinya. "Mendekatlah, putriku." Fatimah berusaha menahan tangisnya, lalu duduk di samping ayahnya. "Tidak lama lagi, engkau akan menyusulku, wahai Fatimah," bisik Rasulullah ﷺ. Fatimah terisak, tapi ia tahu, inilah kehendak Allah. Mata Fatimah sembab, memandang wajah ayahnya untuk kali terakhir, hanya bisa bergumam dalam hatinya .
Di luar, Umar bin Khattab berdiri dengan pandangan tak tentu. Pria yang gagah itu, yang tak gentar menghadapi peperangan sekalipun, kini tak sanggup menahan isak tangisnya. Di dekatnya, Ali bin Abi Thalib menggenggam pedang yang biasa ia pegang dengan tegas. Tapi kali ini, tangannya gemetar. Para sahabat lainnya duduk terdiam, seakan dunia tiba-tiba berhenti berputar .
Saat itu, Rasulullah ﷺ memejamkan matanya, di pangkuan Aisyah, bibir beliau bergerak perlahan. Kalimat-kalimat terakhir beliau meluncur, "Ya Allah, pertemukan aku dengan kekasih-Mu, ar-Rafiq al-‘Ala." Kalimat ini di ulang sampai tiga kali, Suara beliau semakin pelan sampai melemah, dan Rasulullah pun pergi menuju sang Kekasih Nya Tuhan Yang Maha Tinggi, Inna Lilahi Wa Inna Ilaihi Raajiun, seakan udara pun ikut berhenti mengalir, ikut menghormati momen suci ini .
Aisyah yang berada di sampingnya, menahan tangis. Dalam keheningan yang memilukan, detik demi detik terasa begitu panjang. Dan tiba-tiba, wajah Rasulullah ﷺ yang tadinya menunjukkan kelemahan, kini tersenyum. Senyum yang begitu indah, menandakan pertemuan dengan Sang Kekasih .
Abu Bakar yang akhirnya, masuk ke dalam ruangan. Melihat Nabi telah terpejam, ia mendekati tubuh yang telah kaku itu, mencium keningnya dengan lembut. "Engkau indah, wahai Rasulullah, dalam hidupmu dan indah pula dalam kematianmu," ucapnya dengan suara bergetar. Sambil menahan airmatanya
Di luar, tangisan semakin pecah. Tidak ada satu pun yang mampu menahan kesedihan yang begitu mendalam. Madinah kini dipenuhi oleh suara duka. Bumi dan langit seakan menangis bersama, meratapi kepergian Nabi akhir zaman. Harapan, cahaya, dan cinta yang selama ini menghidupi umat manusia, kini telah berpulang kepada Sang Pemilik.
Tangisan pecah di seluruh Madinah. Kepergian Rasulullah ﷺ meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh umat. Langit seakan ikut menangis, membasahi bumi dengan air mata duka. Cahaya telah padam, harapan seakan sirna. Namun, kenangan tentang Rasulullah ﷺ akan selalu hidup di hati umat manusia.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sungguh, kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.
Referensi:
Al-Mubarakfuri, S. A. (2008). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Ibnu Hisyam, A. M. (2004). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Jakarta: Penerbit Darus Sunnah.
Indah sekali. Selanjutnya dapat di disajikan juga kisah pemakaman dan proses suksesi setelah Rasulullah saw wafat.
BalasHapus